Kementerian
Pemuda dan Olahraga
Republik Indonesia
Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Terus Dukung Regenerasi Atlet, Suryo Agung Dirikan Running School


Suryo Agung sempat tercatat sebagai manusia tercepat Asia Tenggara setelah mencatatkan rekor pelari tercepat dengan catatan waktu 10.17 detik. Selama 12 tahun berkarir, dedikasi seorang Suryo sudah tidak diragukan lagi. Atlet yang menekuni cabang olahraga atletik bergabung sebagai ASN Kemenpora pada tahun 2008, sebagai penghargaan atas upayanya mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional.(dok/kemenpora.go.id)
Bangkok: Suryo Agung sempat tercatat sebagai manusia tercepat Asia Tenggara setelah mencatatkan rekor pelari tercepat dengan catatan waktu 10.17 detik. Selama 12 tahun berkarir, dedikasi seorang Suryo sudah tidak diragukan lagi. Atlet yang menekuni cabang olahraga atletik bergabung sebagai ASN Kemenpora pada tahun 2008, sebagai penghargaan atas upayanya mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. 
 
Ia adalah pecinta olahraga sejati. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, pria kelahiran Surakarta 10 Agustus 1983 ini sudah menggandrungi olahraga sepakbola. Ia aktif bermain sepakbola pada berbagai kegiatan. Kecintaan Suryo pada dunia olahraga makin terbukti saat dirinya memutuskan berkarir sebagai atlet profesional. 
 
Pada usia 17 tahun mimpi dan cita-cita Suryo dipertemukan dengan jalan yang tepat. Ia diterima di Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) Jawa Tengah. Ia memutuskan fokus di cabang olahraga atletik. Tahun 2000 adalah awal dimulainya karir profesional Suryo sebagai seorang atlet. 
 
Semua pencapaian Suryo bukan tanpa hambatan, masa-masa awal memulai pendidikan di PPLP ia menghadapi tantangan besar saat harus mengorbankan masa muda dan berpisah dengan keluarga terutama dengan Ibunya. Namun, seiring berjalannya waktu ia mulai terbiasa berjarak tempat tinggal dengan orang terdekatnya dan mulai fokus kepada latihan dan pertandingan. 
 
"Tantangannya ya itu, jadi sekaligus motivasi buat saya. Saat harus jauh dari keluarga itu berat sekali. Terutama bagi Ibu, saya kan anak bungsu jadi dekat. Saat saya mulai ikut pertandingan dan meraih juara, Ibu mulai merasa pengorbanan melepas anaknya tidak sia-sia. beliau nggak sedih lagi, malah makin support. Disitu aku jadi lega, nggak ada beban lagi," kenang Suryo. 
 
Menjadi atlet nasional bagi Suryo adalah sebuah kesempatan yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan kesempatan besar apapun dalam hidupnya. Baginya menjadi seorang atlet, tidak hanya soal meraih prestasi dan mengibarkan Bendera Merah Putih di negara lain. Perjalanan dan proses menjadi juara itulah yang sesungguhnya membanggakan bagi Suryo. Ia menyadari bahwa menjadi atlet membuka banyak kesempatan baru. Momen-momen bertanding mewakili Indonesia ke negara lain ia manfaatkan untuk belajar kebudayaan, meningkatkan kemampuan bahasa asing, dan belajar berinteraksi dengan baik serta membangun koneksi dengan membangun hubungan pertemanan dengan atlet dari berbagai negara. 
 
Dengan menjadi atlet, Suryo juga belajar bangkit dari keterpurukan dan rasa putus asa. Terutama saat ia gagal memenuhi target, karena mengalami cidera di tahun 2004. Suryo yang ditarget untuk meraih medali emas pada PON saat itu merasa sangat malu, sedih serta merasa tidak cukup layak hingga ingin berhenti. Sedikit demi sedikit Suryo mulai kembali mengumpulkan semangat dan memulihkan mental untuk bertanding. Berkat dukungan dari keluarga dan orang terdekat ia berhasil melewati episode kelam tersebut. 
 
"Keluarga terus kasih semangat. Mereka bilang: kamu udah mutusin untuk pergi dari rumah (ikut pelatnas), kamu udah sejauh ini. Kenapa sekarang harus menyerah. Salah satunya ya itu. Akhirnya aku coba lagi, lebih tekun hingga akhirnya berhasil mewakili Indonesia." 
 
Tahun 2007 adalah awal kebangkitan karir Suryo. Ia berhasil meraih medali Emas di Sea Games, Thailand. Setelahnya, ia terus mewakili Indonesia dalam berbagai ajang olahraga internasional dan membawa pulang medali emas hampir di semua single event. Tahun 2009 ia tercatat sebagai manusia tercepat Asia Tenggara karena berhasil memecahkan rekor waktu pelari 100M di angka 10.17 detik. Sampai tahun 2012 ia masih terus mengukir prestasi, sebelum akhirnya pensiun dari dunia atletik. 
 
Akhir 2012, Suryo resmi mengakhiri karir keatletannya. Namun pengabdian di dunia olahraga tidak berhenti sampai di situ. Suryo tercatat sebagai ASN di Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan sekarang aktif sebagai Kepala Sub Bidang Pengembangan Bakat di Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga. Di samping itu, Suryo juga menjalankan sekolah yang diberi nama Suryo Agung Running School yang fokus mengajarkan kemampuan dasar atletik. Bagi Suryo, ini merupakan pengabdian dan balas budi kepada dunia yang telah membesarkan namanya. 
 
Dalam kegiatan sehari-sehari Suryo terus memotivasi dan mendukung siapa saja yang berkeinginan menjadi atlet. Ia menekankan bahwa menjadi atlet sama menjanjikannya dengan pekerjaan profesional lainnya. Kesejahteraan atlet kian hari kian terjamin. Selain dukungan pemerintah yang memang sangat besar, Ia mengatakan bahwa masyarakat umum juga sangat menghargai profesi tersebut. 
 
"Waktu saya berkunjung ke suatu tempat, dari parkiran saja mereka sudah senyum ramah. Sambutan masyarakat maksudnya. Mereka sangat ramah dan hangat. Senang, ternyata apa yang saya perbuat untuk bangsa ini sangat diapresiasi, walaupun cuma sapaan. Itu suatu wujud apresiasi bagi saya."(sin)