Minggu, 26 Pebruari 2017, 13:03 WIB
Preview Tribun
 
Ketika Para Santri Berkompetisi Sepakbola

Senin, 7 September 2015, 19:22 WIB

Ketika Para Santri Berkompetisi Sepakbola
Mercy Raya - detikSport
Senin, 07/09/2015 17:19 WIB

Karawang - Tentu saja para santri tidak melulu belajar soal agama di pesantren-pesantren. Mereka pun bisa beradu fisik dan taktik di lapangan hijau alias berkompetisi sepakbola.

Itulah yang baru mulai diadakan di Karawang, Jawa Barat. Sebuah turnamen bertajuk Liga Santri Nusantara (LSN), yang pembukaannya dilakukan hari Minggu (6/9/2015) sore kemarin di Stadion Singaperbangsa, yang dihadiri pula oleh Menpora Imam Nahrawi dan Ketua PB Nahdhatul Ulama (NU) KH. Marsudi Syuhud.

"Kita adakan di Karawang karena dari kota ini lahir kemerdekaan Indonesia. Waktu saya memimpin Kirab Resolusi Jihad mengawal Merah Putih dari Surabaya ke Jakarta, saya disambut luar biasa masyarakat Karawang. Karena itu, kick-off LSN adalah awal memunculkan bibit tangguh, tidak hanya spiritual, tapi juga fisik. Di Brasil sepakbola menjadi agama; di Indonesia nilai agama harus masuk ke sepakbola agar tidak ada lagi pengaturan skor dan sepakbola gajah," ujar Menpora dalam sambutannya.

Plt. Bupati Karawang Cellica menyambut gembira digelarnya LSN di wilayahnya."Pemda Kabupaten Karawang berterima kasih atas kedatangan Menpora di kota yang terkenal dengan Rengasdengklok dan Goyang Karawang. Goyang Karawang sering dipersepsikan negatif, padahal maksud sebenarnya adalah posisi strategis kawasan ini di kancah nasional. LSN bukan soal menang kalah, tapi program unggulan untuk mencari bibit-bibit santri di pelosok Indonesia. Salam hormat kami dari masyarakat Karawang," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Nasional Liga Santri Doddy Iswandi dalam pernyataannya memaparkan tujuan digelarnya Liga Santri Liga Santri ini merupakan awal dan baru diikuti 10 provinsi. Ke depan akan kita tingkatkan menjadi seluruh provinsi. Tujuan akhir dari LSN ini menjaring bibit unggul tim sepakbola nasional yang berasal dari pesantren," katanya.

Provinsi yang dilibatkan di antaranya Banten, DKI Jakarta, Jabar, Yogyakarta, Jateng, Jatim, NTB, Sulut, Sultra, dan Lampung. "Final akan digelar di Jatim, dijadwalkan berlangsung 10 November atau bertepatan pada Hari Pahlawan yang rencananya berlangsung di Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya atau Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Tahun 2016 akan diikuti santri seluruh Indonesia," tutur Doddy.

Turnamen yang memperebutkan hadiah utama uang pembinaan Rp 100 juta tersebut akan diikuti 192 tim yang berasal dari pondok pesantren di 10 provinsi di Indonesia, dan dibagi menjadi 16 zona. Nantinya juara-juara antarzona lolos ke babak berikutnya dan berhak masuk 16 besar yang dibagi empat grup.

Sejumlah pondok pesantren ternama dipastikan berpartisipasi dalam kejuaraan yang digagas Kemenpora dan PBNU tersebut, antara lain Pondok Pesantren Gontor (Ponorogo), Pondok Pesantren Denanyar (Jombang), Pondok Pesantren Bumi Sholawat (Tulangan, Sidoarjo), dan lainnya.

Penyelenggara memberi aturan ketat di bagian administrasi pada turnamen yang maksimal pemainnya berusia 17 tahun tersebut. Antara lain identitas diri disertai surat pernyataan dari pondok pesantren yang memastikan santrinya.

"Kalau sampai ada pemain yang ternyata bukan dari pesantren dimaksud, maka pasti didiskualifikasi. Sanksi yang sama juga berlaku jika diketahui ada pemain berusia melebihi batasan umur," kata Mukafi.

Peraturan lainnya, lanjut Mukafi, dua tim bermain 2 x 30 menit dengan waktu jeda 10 menit di pertengahan babak, dan melibatkan wasit-wasit profesional yang biasa memimpin laga resmi nasional.


Site Map