Minggu, 26 Pebruari 2017, 13:03 WIB
Preview Pojok senayan
 
Sepak Bola Atau Sepak Bala?

Kamis, 14 Pebruari 2013, 00:00 WIB

Ibarat sebuah perang, saat ini kisruh dualisme Federasi Sepakbola Indonesia sudah mencapai titik di mana pasukan-pasukan sudah berdarah-darah, amunisi pun menipis. Namun, perang belum akan usai karena para panglima masih belum menyarungkan pedangnya dan genderang masih ditabuh dengan lantang. Perang ini sudah kepalang basah oleh darah.

Seperti judul di atas, bukan sepakbola yang selama ini kita saksikan, tapi sepak bala (dibaca bolo adalah teman atau pasukan dalam Bahasa Jawa). Yang terjadi adalah saling tendang dan saling tuding di antara pecinta sepakbola. Yang seharusnya bisa berbala menjadi kuat malah saling melemahkan dalam arti sesungguhnya.  

Beberapa minggu terakhir, tentu dalam kesempatan berbeda, saya sudah bertatap muka dan berdiskusi dengan klub-klub baik yang tergabung di Liga Primer Indonesia (yang merupakan kompetisi ‘resmi’ PSSI) dan Liga Super Indonesia, yang diinisiasi oleh KPSI.

Salah satu perwakilan klub dari Indonesia bagian timur dengan emosional mengatakan bahwa “sepak bola adalah harapan bagi anak-anak kami untuk mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak-anak di bagian Indonesia yang lain.” Saya sungguh sepakat dengan teori tersebut.

Ada juga yang menyebutkan bagaimana mengurus sebuah klub turun-temurun dari sang kakek. Sudah tak terhingga uang yang dikuras dari tabungan keluarga dan mereka bertahan karena kecintaan pada sepakbola.

Masing-masing membawa cerita kesulitan mereka, yang sebenarnya secara garis besar sama, hanya dengan tokoh-tokoh antagonis yang berbeda sesuai dengan kubu mereka. Semua sama-sama mengakui besarnya cinta mereka pada sepakbola, pada Tanah Air dan pada kebanggaan membela Merah Putih.
 
Kalau kita bisa membawa mereka untuk duduk bersama, saya yakin mereka akan dengan hangat bertukar cerita tentang sepakbola dan saling memperkaya – tentu dalam kondisi dan situasi yang berbeda. Dua belah pihak memiliki kecintaan yang sama pada sepakbola. Cinta siapa yang paling tulus, hanya Tuhan dan mereka yang tahu. Mungkin di lapangan hijau, cinta mereka tampak dari hangatnya sambutan penonton, pecinta sepakbola Tanah Air yang rela berduyun-duyun menonton klub kesayangan mereka.

Yang membedakan mereka adalah cara mereka membaca statuta FIFA, AD/ART PSSI dan segala perangkat perundang-undangan yang berhubungan dengan bola. Ada perbedaan persepsi substansial yang menjadi salah satu sebab berlarut-larutnya kondisi ini melengkapi pertarungan kepentingan.

Tapi, memang hukum dan peraturan bukan dogma, hanya buatan manusia yang bisa dicari celah untuk keuntungan pihak sendiri. Saya bukan panglima perang. Dan sebaiknya serta semestinya saya tidak ikut berperang. Saya hanya dipercaya untuk menunaikan mandat dari Presiden RI untuk ikut mengurai benang kusut ini.

Ketika banyak pihak menuntut pemerintah untuk turun tangan dan menyelesaikan kisruh sepakbola ini, kami mendengar dan menampung aspirasi sambil berhitung mencari jalan keluar. Diam kami adalah mencari jalan, mempelajari seluk beluk, tikungan dan celah yang memungkinkan untuk bisa mendinginkan perang – bahkan semoga bisa menghentikan dualisme ini.

Tapi, lagi-lagi, sepakbola memang memiliki aturan mainnya sendiri. Dengan asumsi federasi yang matang dan dewasa, FIFA sudah menegaskan supaya persoalan ini diselesaikan secara internal di dalam federasi (yang diakui oleh FIFA) dan tidak melibatkan pihak pemerintah. Dengan pra-kondisi semacam ini sulit bagi pihak di luar federasi, baik itu pemerintah sekalipun, untuk ikut melibatkan diri.

Kepada FIFA dan AFC kami sudah mempertanyakan secara formal batasan-batasan intervensi yang mereka tegaskan, supaya kami tidak salah langkah  yang merugikan persepakbolaan Indonesia. Sama sekali tidak ada kepentingan politik seperti yang dicurigai beberapa pihak. Kami berusaha berdiri di tengah-tengah, memegang teguh aturan dan batasan-batasan kami.

Kalau pun ada kepentingan di balik upaya kami semua ini, hanya satu. Tidak lain dan tidak bukan adalah kepentingan perbaikan nasib sepakbola Indonesia. Tidak berlebihan kiranya jika kita katakan kalau pemerintah dan segenap pecinta sepakbola Tanah Air ingin melihat pesepakbola Indonesia berlaga di gelanggang internasional dengan gagah berani.

Sementara ini, kepentingan kami hanyalah memiliki Tim Nasional yang profesional dan solid untuk membela Merah Putih. Pertandingan kedua dalam babak penyisihan Grup C Piala Asia melawan Saudi Arabia sudah di depan mata (23 Maret 2013).  

Bagaimanapun, Timnas harus ada dan terbentuk serta dipersiapkan dengan baik. Pemain-pemain harus dipanggil dan mulai berlatih. Dan untuk itu pihak-pihak yang memiliki kepentingan dengan pemain sudah seharusnya mengirimkan pemain terbaiknya – demi Merah Putih, demi sepakbola Indonesia. Seperti ‘curhat’ mereka pada saya. Mari kita tunjukkan itu.

Memang, segalanya akan menjadi mudah bagi pemerintah untuk mencari solusi seandainya FIFA justru sudah menjatuhkan sanksi. Meskipun kondisi ini tidak dikehendaki oleh siapapun karena merugikan kepentingan diplomasi bangsa melalui sepakbola di kancah internasional.

Semoga kalau memang harus berakhir dengan punishment dari FIFA, itu tidak akan berlangsung lama. Karena FIFA pasti tahu bahwa pemerintah serius ingin memajukan persepakbolaan di Indonesia.

Bukan bersikap pesimis dengan adanya kemungkinan terburuk itu. Namun, apapun yang akan terjadi, itu bukan akhir dari persepakbolaan Indonesia.

Jangan-jangan, ini merupakan kesempatan untuk membuka awal baru. Persepakbolaan Indonesia tidak hanya tentang sepakbola profesional dengan kompetisi-kompetisi yang menarik sponsor dan penonton. Sepakbola Indonesia adalah milik semua, dari anak-anak kampung di pelosok Papua sampai sekolah-sekolah bola di Jakarta.

Mungkin dengan dengan lembar baru itu kita bisa memiliki kesempatan untuk menyusun lagi arsenal kita, mencari bibit-bibit baru, mengasah dan mengasuh mereka untuk bermain sepakbola yang fair dan sportif. Bukan bermain sepak bala di ruang-ruang pengurus klub dan di forum-forum yang seharusnya kita hormati. *

Jakarta, 13 Februari 2013

* Roy Suryo

Site Map