Kementerian
Pemuda dan Olahraga
Republik Indonesia

Atasi Kejenuhan Jadi Tantangan Terberat PB Pelti Jalani Pelatnas Ditengah Pandemi Covid-19


Di tengah pandemi covid-19, pelatihan nasional ( Pelatnas) PB Pelti jalan terus. Berbagai persiapan tetap harus terus dilakukan para atlet meskipun ada beberapa kendala yang harus dihadapi. Salah satunya merubah semua porsi latihan dan tidak adanya even pertandingan membuat kejenuhan tersendiri. (foto:raiky/kemenpora.go.id)

Jakarta: Di tengah pandemi covid-19, pelatihan nasional ( Pelatnas) PB Pelti jalan terus. Berbagai persiapan tetap harus terus dilakukan para atlet meskipun ada beberapa kendala yang harus dihadapi. Salah satunya merubah semua porsi latihan dan tidak adanya even pertandingan membuat kejenuhan tersendiri.  

"Tantangan berat pelatnas saat pandemi ini adalah mengatasi kejenuhan, dan akan terlihat kalau sudah jenuh akan mengurangi bahkan menghilangkan konsentrasi dan semangat," terang Pelatih Deddy Tedjamukti di Stadion Tenis I (Center Court), Kawasan GBK, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9) pagi.

Adapun rutinitas pelatnas dilaksanakan dalam satu pekan secara fleksibel yaitu jam 08.00-10.00 latihan fisik, 10.00-12.00 latihan pertandingan, atau sebaliknya. Rabu dan Minggu libur, namun bila disepakati latihan juga bisa dilakukan. Para atlet menginap di Hotel RedDoorz Plus Sency tidak jauh dari kawasan olahraga Gelora Bung Karno, dan untuk makan memakai Helty Catering yang langsung didrop ke stadion tempat mereka berlatih. 

"Pandai-pandainya kita menyiasati kejenuhan. Kadang kita latihan sekaligus refresing dengan tetap disiplin Protokol Kesehatan. Pernah kita adakan di daerah wisata pantai Tanjung Lesung," tambahnya. 

Untuk sport science juga menjadi perhatian PB Pelti dalam pelatnas. Fasilitas kebugaran fisik dibawah kendali Strength and Conditioning, dan Physiotheraphist. Dua tenaga handal dibidangnya, Okki Yonda dan dr Mokh Rakhmad Abadi diberikan tanggung jawab untuk mengawal itu.  

Ketua Umum PB Pelti Rildo Ananda Anwar menjelaskan bahwa keberhasilan cabor tenis dalam Asian Games 2018 dan SEA Games 2019 adalah berkat filosofi pengurus itu pelayan dan pelatnas yang dilakukan terus menerus. Terakhir turnamen yang diikuti adalah Ferderasi Cup di Dubai bulan Maret 2020 yang lalu. 

Sejak itu praktis hingga saat ini tidak ada even pertandingan yang menjadi ajang para atlet guna mendongkrak prestasi. Meski demikian, pelatnas tetap digelar guna menjaga fisik tetap optimal, dengan tetap menatap target Olimpiade Tokyo dan SEA Games Vietnam 2021. 

"Pengurus itu pelayan, bukan bos. Tugas kami terus melayani para atlet dan pelatih dalam mempersiapkan prestasi. Pelatnas tetap berjalan, dengan menyesuaikan kondisi terutama jaga fisik, keberhasilan kita di Asian Games memperoleh emas, dan Juara Umum di SEA Games Manila dengan 3 emas harus dipertahankan, itu perlunya pelatnas terus dilakukan," jelas Ketum PB Pelti.  

Adapun Petenis Putri andalan Indonesia Aldila Sutjiadi mengatakan bahwa seluruh keperluan dalam pelatnas sudah tersedia dengan baik. Ritme latihan baik secara fisik maupun pertandingan yang diterapkan oleh pelatih selalu diikuti dengan kepatuhan. "Semua sampai saat ini fasilitas tidak ada kendala, keuangan (gaji/honor) juga tidak ada kendala. Kadang latihan terus tidak ada lawan tanding jenuh juga, untuk mengatasi itu saat libur refresing ke tempat tertentu atas seizin pelatih," katanya. (cah)